News

Belajar Takut Akan Tuhan

Belajar Takut Akan TuhanVol.169 / 2009

“HATI YANG CANTIK”

Istilah ‘hati yang cantik’ ini saya dengar dari teman hamba Tuhan ketika kami makan bersama setelah saya melayani di gerejanya.
Seperti biasanya setelah ibadah , kami sharing Firman dan pengalaman pelayanan. Saya belajar banyak dari setiap hamba Tuhan yang saya temui.

Apalagi kalau bertemu dengan hamba Tuhan yang memiliki ketulusan dan kesungguhan hati , saya lebih mudah untuk belajar. Dia bercerita apa adanya dari hatinya dan dari hidupnya.

Dia menceritakan 2 kisah jemaatnya sehingga muncul istilah ‘hati yang cantik’.
Yang pertama kisah seorang bapak yang sederhana , pekerjaannya sebagai buruh tani . Anak-anaknya beragama lain.
Suatu kali dia mengalami kecelakaan yang menyebabkan dia tidak bisa ke berangkat sendiri ke gereja. Satu dua kali ditolong untuk ke gereja , lama-lama anak anaknya tidak ada yang peduli. Hal ini berlalu bertahun – tahun , bapak ini bertahan hidup sendirian.
Suatu kali ada jemaat teman saya ini mendengar bahwa ada seorang bapak yang sepertinya dikucilkan keluarganya karena beda iman dan hidup terpisah. Maka bapak inipun dikunjungi. Sewaktu ditanyakan apakah bapak masih percaya Tuhan , bapak ini menjawab bahwa dia masih percaya Tuhan dan tetap berdoa dan baca Alkitab setiap hari. Ini sudah berjalan selama 3 tahun. Walau karena keterbatasan phisiknya membuat dia tidak bisa ke gereja , hatinya tetap setia mencari Tuhan.
Bayangkan selama 3 tahun tetap setia berdoa dan baca Alkitab walau tidak ada yang peduli !

Lalu jemaat teman saya ini membawanya ke gereja . Mulai saat itu dia rutin beribadah kembali setelah sekian tahun sendirian.
Dan sebelum bapak ini meninggal , sepertinya dia sudah menyiapkan diri. Setelah memberesi rumahnya , menyiapkan apa yang perlu disiapkan , mandi , berbenah , tidur dan pulang ke rumah Bapa. Kepulangannya membawa kesan mendalam bagi anak-anaknya dan tetangganya. Ada atmosfir damai yang teduh dan penuh kasih menyelimuti selama acara pemakaman. Bapak ini memiliki ‘hati yang cantik’ di hadapan Tuhan. Walau sekitarnya tidak peduli , dia tetap setia percaya dan membaca Alkitabnya , sehingga dalam kematiannya ada sesuatu yang berbeda. Yang membuat hati orang sekitarnya berbalik kepada TUHAN.

Lalu kisah yang kedua adalah dari jemaatnya yang lain.
Dia bekerja sebagai petani yang memiliki ladang yang kecil. Untuk hidup kesehariannya dia pas-pasan bahkan kekurangan. Bahkan lantai rumahnya dari tanah. Tetapi orangnya setia beribadah.
Sekian tahun dia beribadah , suatu kali dia ingin membantu pembangunan gereja. Dia serahkan satu amplop sebagai wujud niat hatinya membangun rumah Tuhan. Setelah bapak ini pulang , amplop dibuka , dan isinya uang sebanyak 1,5 juta. Itu bukan uang yang banyak untuk orang kaya , tetapi itu uang yang sangat besar dan berharga untuk orang sederhana seperti dia. Bapak ini memiliki ‘karakter hati yang cantik’ walau hidup dalam kekurangan.
Sewaktu istrinya yang setia mendampinginya ibadah , sakit lalu meninggal dunia , ada hujan yang sejuk turun setelah sekian bulan kemarau kering kerontang. Ada suasana yang indah menyelimuti kematian istrinya. Damai dan penuh kasih. Bahkan dia sudah menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pemakaman istrinya . Dia tidak mau membebani gereja walau hidupnya kekurangan.

Inilah kisah kedua jemaatnya yang memunculkan istilah ‘hati yang cantik’.
Sementara saya mendengarkan sharingnya hati saya tersentuh …
Dari ceritanya tentang sikap hati , menunjukkan wajah seseorang di hadapan Tuhan.
Saya membayangkan wajah banyak orang di hadapan Tuhan sesuai dengan keadaan hatinya. Ada hati yang cantik , biasa , jelek bahkan menjijikkan . Mungkin ada yang berbau wangi , ada yang biasa saja , atau bahkan ada yang berbau busuk.
Seperti apa wujud kita di hadapan Tuhan ditentukan sikap hati kita.
Saya sadar Tuhan melihat hati. Siapa saya di hadapan TUHAN itulah tampilan hati saya .

Dalam hati saya muncul pertanyaan , seperti apa ya rupa hati saya di hadapan Tuhan ?
Adakah hati saya didapatinya cantik , biasa saja atau jelek ya ?
Saya sadar bukan penampilan phisik dan pencapaian manusiawi saya yang utama , tetapi karakter hati saya.
Kalau hati saya ini percaya ke Tuhan , tulus , murni mengandalkan Tuhan , tetap setia kepadaNya dalam keadaan apapun juga – maka hati saya dilihatnya cantik dan menarik .
Tetapi kalau sikap hati saya merendahkan Tuhan , memiliki niat jahat tersembunyi dan tidak memiliki integritas , maka Tuhan melihat wajah saya jelek di hadapanNya.

Saya bawa hati dan hidup saya ke Tuhan. Saya minta Dia menerangi hati dan hidup saya.
Saya mau dibentuk serupa dengan Tuhan Yesus Juruselamat saya.
Saya mau menjadi hamba yang baik , setia dan taat kepada Tuhan saya. Saya ingin tuntas memenuhi panggilan TUHAN dalam hidup saya .
Saya mau karakter hati saya didapati cantik di hadapan Tuhan….

… Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.
( Kis.13:22 )

———————————————————————————————————————————————————

Vol.168 / 2009

“SIAPA YANG SALAH ?”

Sore hari. Dari pagi saya ikut rapat kerja salah satu institusi pendidikan. Mereka sedang evaluasi proses pendidikan yang sedang berlangsung.

Mereka membahas beberapa masalah dan terus mencoba menyelaraskan dengan visi dan misi mereka.
Setelah mengikuti session demi session , saya bisa membaca apa yang sedang terjadi dan apa saja yang mereka butuhkan. Sebenarnya masalah mereka adalah masalah yang umum : masalah komunikasi dengan pemimpin , masalah membangun SDM yang ada , masalah peraturan dan administrasi yang belum dilaksanakan dan masalah team work.

Sebelum acara penutupan raker , saya diminta untuk menyampaikan renungan. Saya tahu mereka sudah bicara serius dari pagi sampai sore. Rasanya capek kalau saya juga jejali mereka dengan nasehat dan nasehat.
Saya mau ajak mereka merenung saja.

Saya mulai dengan cerita suatu pagi saya membaca Koran olahraga.
Ada laporan hasil pertandingan sepakbola dengan skore itu 10-0. Sepuluh kosong ! Itu angka yang mentakjubkan yang memaksa orang untuk bertanya-tanya. Ada apa ? Mengapa bisa terjadi seperti itu ? Apakah memang semua pemain lawan menyumbang satu gol satu per satu ??

Lalu saya ajukan pertanyaan kepada peserta raker itu – siapa yang salah atas kekalahan telak itu ?

Pemilik kesebelasan , team official yang terdiri dari manager dan pelatih , atau pemainnya yang salah ?

Saya ajukan satu per satu pertanyaan itu , dan sebagian menjawab pemilik , dan sebagian menjawab team offial. Sewaktu saya ajukan pertanyaan , apakah pemainnya juga bersalah ?
Tidak ada satupun peserta raker mengangkat tangan !
Mereka menganggap pemainnya tidak andil dalam kekalahan itu.

Dari sini saya mulai ajak mereka untuk merenung.

Yang pertama – pemilik kesebelasan .
Karena pemilik kesebelasan itu mempunyai tanggung jawab penuh atas keputusannya untuk memakai siapa dan siapa – maka saya tidak mau menyalahkan pemilik.
Dan kesalahan pemilik adalah bukan kesalahan yang perlu dipertanggungjawabkan kepada siapapun , karena dialah pemilik kesebelasan itu. Tetapi tidak ada pemilik yang mau kesebelasannya kalah dengan skore 10-0 !
Dia sudah memilih team official sebagai kepanjangan tangannya untuk membuat kesebelasannya berhasil. Jadi di mata saya pemilik saya sisihkan sebagai alasan kekalahan 10-0 itu.

Yang kedua – bagian official , manager dan pelatih .
Selama mereka sudah mempersiapkan para pemainnya dengan latihan dan strategi yang ketat dan bagus , maka team official sudah melakukan tugasnya dengan baik.
Secara ketrampilan sudah diasah , secara mental sudah digembleng mental juara , secara strategi sudah diberikan yang terbaik untuk menghadapi lawan mereka hari itu.
Jadi kalau team official sudah melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya maka mereka disisihkan sebagai alasan kekalahan telak itu.
O ..ya mereka bisa andil salah kalau tidak melakukan bagiannya maksimal , tetapi itu bukan alasan yang kuat kalau sampai kalah telak. Karena itu saya sisihkan team official sebagai pihak yang salah.

Yang terakhir adalah para pemainnya.
Bagaimanapun para pemain telah dibekali dengan latihan , ketrampilan , dorongan mental dan dukungan financial untuk bertanding dengan maksimal.
Semua hasil latihan di markas mereka – tinggal dilengkapi dengan tekad dan semangat pantang menyerah di lapangan.
Jadi harapan pemilik dan team official ditaruh di pundak mereka.
Merekalah yang memutuskan di lapangan – mengikuti strategi , bekerja dengan semangat juang tinggi dan bekerja sama untuk menang.

Apapun yang terjadi di lapangan selama pemainnya bertekad berjuang , maka tetap bisa menghasilkan hasil terbaik.
Kalau seandainya kalah , itupun kalah dengan wajar – bukan kalah dengan skore telak 10-0.
Seandainya yang dilawan mereka kesebelasan kelas dunia , seperti Spanyol atau Brazil , maka saya bisa mengerti kekalahan telak itu . Tetapi kesebelasan yang dilawan mereka tidak pernah masuk ke babak final nasional , sementara kesebelasan mereka pernah juara tingkat nasional.

Saya menyadari bahwa pemilik bisa andil salah dengan salah memilih team official , team official pun bisa salah dengan strategi mereka , tetapi di lapangan – pemainlah yang menentukan.

Jadi menurut saya yang paling bertanggung jawab atas kekalahan telak itu adalah para pemain.
Semua harapan ada di pundak meeka , maka tekad , usaha optimal , integritas dan tanggungjawab mereka diuji saat itu.

Lalu saya aplikasikan studi kasus itu dengan keadaan istitusi mereka.

Kalau pemilik dan team dosen sudah lakukan bagiannya dengan maksimal , maka keputusan berhasil atau tidak ada di tangan para mahasiswa mereka…

Saya ajak mereka membuka mata hati untuk mengevaluasi , juga bertekad bekerja sama sebagai satu team untuk mencapai tujuan bersama.

Saya tahu tidak menyenangkan membahas siapa yang salah , tetapi kalau masing-masing pihak bisa membuka diri , maka pasti ke depannya akan lebih baik.
Itu butuh kerendahan hati …

Tangan-Mu telah menjadikan aku dan membentuk aku, berilah aku pengertian, supaya aku dapat belajar perintah-perintah-Mu. ( Maz. 119:73 )

———————————————————————————————————————————————————

Vol.166 / 2009

HATI YANG MUDAH BERPIHAK

Malam hari . Saya lagi nonton pertandingan perempat final Piala Dunia antara Brazil melawan Belanda.
Saya sebenarnya tidak terlalu hobi nonton bola , tetapi pertandingan sepakbola dunia 4 tahun sekali ini sangat menarik untuk ditonton karena team yang bertanding team pilihan. Saya tertarik karena olahraga bola ini juga kompetisi strategi , pelatih dan kerjasama team antar negara.

Sepanjang menonton pertandingan hati saya berpihak ke Brazil.

Memang keberpihakan ini tidak ada dasarnya yang masuk akal.
Saya tidak mengenal para pemain Brazil , saya juga tidak ada hubungan hati dengan negara itu. Hati saya berpihak ke Brazil hanya karena hal sepele.
Saya hanya pernah baca artikelnya dan permainan mereka enak ditonton , jadi karena ketidak mengertian saya , saya berpihak ke Brazil. Saya jadi mengerti istilah , tak kenal maka tak sayang …
Apalagi suatu kali ketika di Surabaya ada kejadian sepele yang ternyata mempengaruhi hati saya. Kami liburan di Surabaya , tetapi anak kami yang besar mau pulang duluan ke Semarang. Waktu saya antar di terminal bus , sementara berjalan mengantar anak saya , saya lewat konter penjual koran. Saya berhenti sebentar untuk beli koran. Dan setiap pembelian koran berhak mendapatkan 1 lembar undian tebakan Piala Dunia. Iseng saya ikut mengisi undian itu , dan waktu ditanya kesebelasan mana yang saya jagokan , spontan saya jawab Brazil. Lalu saya tulis dan saya masukkan ke kotak yang disediakan. Berikutnya saya melupakannya .

Tetapi saya tidak menyadari pilihan saya itu mempengaruhi hati saya kemudian.
Jadi ketika menonton pertandingan Brazil lawan negara manapun , hati saya memihak kepada Brazil. Saya masih terus bisa menikmatinya karena sampai dengan perdelapan final Brazil selalu menang. Saya ikut senang walaupun saya tidak ikut main.

Jadi sewaktu saya menonton Brazil melawan Belanda di perempat final , saya masih yakin Brazil akan menang.
Dari menit awal sampai pertandingan berlangsung lama , saya menikmati menontonnya . Saya tahu hati saya sudah berpihak. Dan sewaktu Belanda mulai kelihatan unggul , hati saya kecewa. Saya sendiri heran dengan hati saya.
Apa untungnya saya memihak ke Brazil ?
Dan juga apa untungnya saya memihak Belanda ?

Sebenarnya pertandingan itu tidak ada pengaruhnya sama sekali dalam hidup saya. Saya bisa tidak peduli mau siapa yang menang , tetapi ternyata hati saya terpengaruh !

Pertandingan selesai dan dimenangkan oleh Belanda.
Hati saya kecewa !
Rasanya saya seperti saya yang bermain bola dan kalah ! Walau saya melihat Belanda bermain bagus , tetapi karena hati saya sudah terlanjur memihak – jadi saya menjadi kecewa tanpa sadar….

Dari perubahan sikap hati ini saya saya belajar lagi , sesungguhnya hati manusia itu mudah terpengaruh.

Saya biasanya berhati-hati dengan sikap hati saya. Saya tidak mudah memihak orang lain , saya tidak mau menilai orang lain , saya juga tidak mau menghakimi orang lain.
Saya jagai hati saya karena saya tahu inilah modal utama hidup saya , hati saya.
Saya juga ingin hanya Tuhan saja yang mempengaruhi hidup saya.

Saya berhati-hati supaya saya tidak mudah berpihak kepada manusia. Tetapi walau saya sudah berhati-hati , ternyata hati saya mudah terpengaruh .
Seperti hati saya yang kecewa hanya karena tanpa sengaja menjagokan Brazil !

Saya menjadi waspada dengan hati saya. Saya bertobat. Buat apa saya menyusahkan hati saya untuk sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan manfaat hidup saya .

Di hari hari berikutnya saya tetap menonton pertandingan Piala Dunia , tetapi dengan hati bebas.
Mau yang bertanding siapa lawan siapa saya tidak peduli.
Saya mau menikmatinya saja. Saya sudah belajar tentang hati yang mudah memihak.
Saya mau jagai hati supaya saya tidak kecewa terhadap hal-hal yang tidak perlu kecewa. Hati ini modal hidup saya , saya tidak mau bebani dengan hal-hal yang tidak perlu.

Saya mau memilih untuk menjagai hati saya. Hidup ini pertandingan yang panjang .
Saya mesti menjaga hati saya supaya tidak mudah kecewa dan menjadi lelah .
Saya mau hati saya selalu segar , bersemangat , berani dan berpihak kepada Tuhan saya.
Saya mau ikut Tuhan saja yang lebih menjamin hidup saya lebih baik dan lebih baik lagi ….

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. (Ams.4:23 )

———————————————————————————————————————————————————

Jemaat gereja ini kebanyakan anak muda.
Melihat ketulusan mereka dan semangat mereka , saya belajar banyak. Perjalanan mereka membangun jemaat dari awal menginspirasi saya. Walau mereka mengaku belajar banyak dari saya , tetapi sebenarnya justru saya yang belajar dari mereka.
Saya melayani 3 session selama 2 hari itu. Session pertama seminar untuk suami istri , lalu kebaktian anak muda dan terakhir kebaktian umum. Saya tahu melayani umat Tuhan ini adalah kehormatan dan kepercayaan dari Tuhan sehingga saya tidak lewatkan begitu saja. Saya siapkan khotbah dan hati saya.

Setelah seminar saya ngobrol dengan gembala sidangnya. Kami berbicang banyak hal , dari perkembangan kekristenan di kotanya , hubungan antar hamba Tuhan , juga perkembangan jemaat lokalnya termasuk sikap sinode gerejanya. Kebetulan gereja ini mengalami benturan sikap dengan gereja lain yang satu sinode. Dia bercerita dengan semangat bagaimana semuanya itu bisa terjadi .
Mendengar urutan ceritanya , saya jadi maklum.
Mereka berhadapan dengan orang-orang yang lebih besar pengaruhnya sehingga pendapat mereka tidak lebih didengarkan. Kesalah pahaman itu sebenarnya tidak perlu kalau masing-masing pihak menahan diri.

Ada satu peristiwa yang mengganggu hatinya. Dia dituduh mengambil uang dan mengambil jemaat gereja lain. Tentang uang dia punya bukti dan saksi yang kuat. Dan dia biarkan saja mereka menuduh . Tentang mengambil jemaat – diapun hanya diam saja , walau sebenarnya dia bisa buktikan bahwa semua itu tuduhan belaka.

Sikap ini yang saya suka dari gembala sidangnya.
Walau dituduh dan dicemarkan nama baiknya – dia tidak melawan dengan cara yang sama. Ketika ketua Sinodenya menegurnya – maka dia sampaikan semua data dengan gamblang. Ketua Sinodenya pun akhirnya tahu duduk permasalahannya.

Di tengah-tengah ceritanya , dia mengingatkan saya bahwa sayalah yang mengajarkannya untuk bersikap dewasa , tidak membalas dan menyerahkan penghakiman kepada Tuhan.
Juga dia ingat kalimat saya sewaktu pertama kali melayani gereja mereka. “ Kalau dalam keadaan perang , tidak mungkin membangun”. Ternyata kalimat itu bicara kuat dalam hatinya.
Dia sadar bahwa itu menjadi pesan Tuhan dalam hidupnya saat itu.

Kalau dia konsetrasi kepada pertikaian dan pancingan orang lain untuk bermasalah – maka tanpa sadar dia memasuki peperangan.
Dan kalau dia memasuki peperangan – maka sulitlah dia untuk membangun jemaat.
Energinya dihabiskan untuk ‘berperang’ sehingga lupa membangun jemaat.
Sementara dia dipanggil menjadi gembala. Tugasnya adalah menggembalakan , mengajar dan memperlengkapi hidup jemaat untuk bisa melayani Tuhan.
Hal-hal ini akan tersingkirkan dengan sendirinya kalau dia memasuki ‘peperangan’ yang tidak perlu.

Dia tahu ada ‘peperangan’ yang mesti dihadapi – tetapi kalau perang terus menerus – maka dia tidak bisa membangun apapun.
Dia berterima kasih untuk sharing saya waktu itu. Dia belajar untuk memberikan prioritas hati yang benar sesuai panggilannya.

Saya masih ingat sharing saya waktu itu. Saya sharingkan bagaimana Raja Asa melakukan apa yang baik dan yang benar di mata Tuhan. Dia perintahkan semua orang Yehuda untuk mencari Tuhan , Allah nenek moyang mereka.
Dia menjauhkan penyembahan berhala dari bangsanya. Dan Tuhan memberikan keamanan di negrinya . Karena negeri itu aman dan tidak ada yang memeranginya maka dia bisa membangun.
Kalau ada pertikaian dan peperangan , tidak mungkin dia bisa membangun.

Saya tahu ini bukan hanya bicara suatu kerajaan . Ini juga bicara keadaan hidup semua orang. Kalau seseorang terus berperang dengan diri sendiri , berperang dengan orang lain – maka tidak banyak yang bisa dibangun dalam hidupnya.
Saya belajar lagi ……

Karena negeri itu aman dan tidak ada yang memeranginya di tahun-tahun itu, ia dapat membangun kota-kota benteng di Yehuda; TUHAN telah mengaruniakan keamanan kepadanya. ( 2 Taw.14:6 )

———————————————————————————————————————————————————

Vol.166 / 2009

“HATI YANG MUDAH BERPIHAK”

Malam hari . Saya lagi nonton pertandingan perempat final Piala Dunia antara Brazil melawan Belanda.

Saya sebenarnya tidak terlalu hobi nonton bola , tetapi pertandingan sepakbola dunia 4 tahun sekali ini sangat menarik untuk ditonton karena team yang bertanding team pilihan. Saya tertarik karena olahraga bola ini juga kompetisi strategi , pelatih dan kerjasama team antar negara.

Sepanjang menonton pertandingan hati saya berpihak ke Brazil.

Memang keberpihakan ini tidak ada dasarnya yang masuk akal.
Saya tidak mengenal para pemain Brazil , saya juga tidak ada hubungan hati dengan negara itu. Hati saya berpihak ke Brazil hanya karena hal sepele.
Saya hanya pernah baca artikelnya dan permainan mereka enak ditonton , jadi karena ketidak mengertian saya , saya berpihak ke Brazil. Saya jadi mengerti istilah , tak kenal maka tak sayang …
Apalagi suatu kali ketika di Surabaya ada kejadian sepele yang ternyata mempengaruhi hati saya. Kami liburan di Surabaya , tetapi anak kami yang besar mau pulang duluan ke Semarang. Waktu saya antar di terminal bus , sementara berjalan mengantar anak saya , saya lewat konter penjual koran. Saya berhenti sebentar untuk beli koran. Dan setiap pembelian koran berhak mendapatkan 1 lembar undian tebakan Piala Dunia. Iseng saya ikut mengisi undian itu , dan waktu ditanya kesebelasan mana yang saya jagokan , spontan saya jawab Brazil. Lalu saya tulis dan saya masukkan ke kotak yang disediakan. Berikutnya saya melupakannya .

Tetapi saya tidak menyadari pilihan saya itu mempengaruhi hati saya kemudian.
Jadi ketika menonton pertandingan Brazil lawan negara manapun , hati saya memihak kepada Brazil. Saya masih terus bisa menikmatinya karena sampai dengan perdelapan final Brazil selalu menang. Saya ikut senang walaupun saya tidak ikut main.

Jadi sewaktu saya menonton Brazil melawan Belanda di perempat final , saya masih yakin Brazil akan menang.
Dari menit awal sampai pertandingan berlangsung lama , saya menikmati menontonnya . Saya tahu hati saya sudah berpihak. Dan sewaktu Belanda mulai kelihatan unggul , hati saya kecewa. Saya sendiri heran dengan hati saya.
Apa untungnya saya memihak ke Brazil ?
Dan juga apa untungnya saya memihak Belanda ?

Sebenarnya pertandingan itu tidak ada pengaruhnya sama sekali dalam hidup saya. Saya bisa tidak peduli mau siapa yang menang , tetapi ternyata hati saya terpengaruh !

Pertandingan selesai dan dimenangkan oleh Belanda.
Hati saya kecewa !
Rasanya saya seperti saya yang bermain bola dan kalah ! Walau saya melihat Belanda bermain bagus , tetapi karena hati saya sudah terlanjur memihak – jadi saya menjadi kecewa tanpa sadar….

Dari perubahan sikap hati ini saya saya belajar lagi , sesungguhnya hati manusia itu mudah terpengaruh.

Saya biasanya berhati-hati dengan sikap hati saya. Saya tidak mudah memihak orang lain , saya tidak mau menilai orang lain , saya juga tidak mau menghakimi orang lain.
Saya jagai hati saya karena saya tahu inilah modal utama hidup saya , hati saya.
Saya juga ingin hanya Tuhan saja yang mempengaruhi hidup saya.

Saya berhati-hati supaya saya tidak mudah berpihak kepada manusia. Tetapi walau saya sudah berhati-hati , ternyata hati saya mudah terpengaruh .
Seperti hati saya yang kecewa hanya karena tanpa sengaja menjagokan Brazil !

Saya menjadi waspada dengan hati saya. Saya bertobat. Buat apa saya menyusahkan hati saya untuk sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan manfaat hidup saya .

Di hari hari berikutnya saya tetap menonton pertandingan Piala Dunia , tetapi dengan hati bebas.
Mau yang bertanding siapa lawan siapa saya tidak peduli.
Saya mau menikmatinya saja. Saya sudah belajar tentang hati yang mudah memihak.
Saya mau jagai hati supaya saya tidak kecewa terhadap hal-hal yang tidak perlu kecewa. Hati ini modal hidup saya , saya tidak mau bebani dengan hal-hal yang tidak perlu.

Saya mau memilih untuk menjagai hati saya. Hidup ini pertandingan yang panjang .
Saya mesti menjaga hati saya supaya tidak mudah kecewa dan menjadi lelah .
Saya mau hati saya selalu segar , bersemangat , berani dan berpihak kepada Tuhan saya.
Saya mau ikut Tuhan saja yang lebih menjamin hidup saya lebih baik dan lebih baik lagi ….

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. (Ams.4:23 )

———————————————————————————————————————————————————

Vol. 423 / 2016

“HIDUP BERDOSA DAN TETAP DIURAPI TUHAN ? [ 2-2 ]”

Bagaimana bisa seorang hamba TUHAN yang hidup berzinah masih bisa melayani umat dengan urapan TUHAN ?

Sebelumnya kita sudah membahas 2 alasan.
Yang pertama karena dosa yang dilakukan membutuhkan waktu untuk matang , baru melahirkan maut. Kerusakannya tidak langsung terjadi. Dosa diperbuat , merusak hubungan dengan TUHAN , lalu merusakkan manusia roh dan merusakkan jiwa. Pada saat sudah matang , merusak nama baik , menghancurkan kepercayaan , merusak jiwa yang bersangkutan dan kemudian merusak kehidupan orang lain. Kerusakannya lebih parah terjadi.

Alasan kedua mengapa hamba TUHAN yang berzinah masih bisa melayani TUHAN dengan ‘urapan’ , adalah karena TUHAN tidak pernah mengambil apa yang pernah diberikanNya.
Kalau yang bersangkutan semakin jauh dari TUHAN suatu saat nanti ‘urapan TUHAN’ akan diubah menjadi ‘urapan jiwa hamba TUHAN’ itu.
Berkurangnya ‘kekuatan urapan’ terjadinya tidak langsung tetapi membutuhkan proses waktu. Urapanya lambat laun hanya ‘menjamah jiwa orang lain’ bukan ‘menjamah roh orang lain’. Tidak kelihatan secara kasad mata. Sepertinya semua baik-baik saja , tetapi bagi orang yang memiliki hubungan pribadi dengan TUHAN akan mengetahui hal itu , walau dia tidak menghakimi dan tetap berdoa untuk hamba TUHAN yang bersangkutan.

Dan alasan ketiga adalah karena TUHAN masih ‘memiliki kepentingan’ kepada jemaat yang dilayani hamba TUHAN itu.

Ini berbahaya bagi hamba TUHAN itu karena sepertinya dia masih ‘dipakai TUHAN’ untuk menyampaikan Pesan TUHAN. Masih bisa menyampaikan Firman TUHAN dengan baik , lancar , bahkan memberkati banyak orang. Masih bisa mendoakan orang dan TUHAN menjawab doanya. Sepertinya semua lancar-lancar saja , tetapi ingat kalau jemaat masih diberkati , itu karena TUHAN , bukan karena hamba TUHAN itu.
[ dalam Perjanjian Lama ada Imam Eli yang berdosa di hadapan TUHAN , tetapi ketika berdoa untuk Hana , istri Elkana , maka doanya didengar Tuhan sehingga setahun kemudian lahirlah Samuel ( 1 Sam.1:9-21 ) ]

Kalau Firman Tuhan yang disampaikan masih memberkati banyak orang itu karena pekerjaan Tuhan ROH KUDUS.
Tuhan ‘memiliki kepentingan’ untuk memberkati jemaat yang mendengarkan Firman Nya. Kebetulan hamba TUHAN yang masih hidup dalam dosa itu melayani jemaat yang bersangkutan , maka ‘apa boleh buat’ TUHAN lebih melihat kepentingan jemaat yang perlu ditolong , perlu dipulihkan dan perlu jalan keluar melalui FirmanNya.

Kalau hamba TUHAN ini masih merasa dipakai oleh TUHAN itu urusannya pribadi , tetapi TUHAN tidak hanya ‘memakainya’ tetapi lebih tepat ‘memanfaatkannya!’.
Saya pakai istilah ‘apa boleh buat TUHAN memakainya’ karena TUHAN melihat jemaat dan orang-orang lain masih percaya kepadanya sebagai hamba TUHAN – mendengarkannya. Sementara TUHAN lebih mengerti dan memahami bahwa hamba TUHAN yang bersangkutan sudah menjauh daripadaNya , bahkan sudah mencuri Kemuliaan TUHAN.

Istilah ‘TUHAN memanfaatkan orang itu’ sepertinya istilah yang sadis dan tidak berperi- KETUHANAN.
Tetapi mari kita ingat bahwa hamba TUHAN itulah yang memulai ‘memanfaatkan TUHAN’ untuk kepentingannya pribadi. Urapan TUHAN dimanfaatkan yang bersangkutan untuk mengeruk keuntungan pribadi. Apalagi kalau ‘status hamba TUHAN yang diurapi’ dijadikan alasan untuk berzinah dengan wanita lain. Itu benar-benar memanfaatkan TUHAN.
Apalagi biasanya penampilan hamba TUHAN yang diurapi menjadi lebih menarik dibandingkan sebelum dia diurapi TUHAN. Tetapi harus diingat , PENGURAPAN TUHAN ADALAH UNTUK KEPENTINGAN TUHAN DENGAN JEMAATNYA !
Kalau hamba TUHAN merasa orang lain lebih perhatian dan lebih tertarik , lalu dia memanfaatkan orang bersangkutan untuk berbuat dosa – maka dosanya kepada TUHAN berkali-kali lipat. Memanfaatkan urapan , memanipulasi orang percaya dan mencuri Kemuliaan TUHAN !

Saya sudah diajar TUHAN akan hal ini belasan tahun yang lalu. Sehingga kalau saya berkhotbah dan orang banyak diberkati , maka saya tahu itu TUHAN yang memberkati jemaatNya. Saya hanya dipakai sebagai alatNya saja. Saya jaga hati saya bahwa saya ini hanyalah hambaNya , tidak ada yang baik keluar dari hidup saya. Semua yang baik karena pekerjaan TUHAN dalam hidup saya.
Saya tahu kalau saat khotbah saya diurapi TUHAN , tetapi setelah selesai khotbah , turun mimbar , saya adalah manusia biasa seperti orang lain. Saya adalah orang beriman biasa seperti jemaat yang saya layani ; saya hanya memberikan sepenuh waktu saya untuk melayani TUHAN – sedang mereka jemaat menyerahkan hidupnya paruh waktu kepada TUHAN.
Tetapi semua orang sama di hadapan TUHAN. TUHAN memperlakukan semua orang sama sesuai dengan Kebenaran dan Kasih SetiaNya. Yang berbeda hanyalah upah kehidupan yang nantinya diterima di saat Hari Penghakiman dinyatakan.

Kalau orang lain secara terbuka memuji dan berterima kasih atas pelayanan saya , maka saya akan mengucapkan “Puji TUHAN” sambil tangan saya teracung ke atas. TUHAN-lah yang berhak atas kemuliaan , bukan saya.

Sementara menulis renungan ini , ada kegentaran illahi dalam hidup saya. Ada Takut akan TUHAN yang memegang hati saya . Hati saya terus berseru-seru , “ .. Lindungi aku ya TUHAN , dari dosa yang tersembunyi. Jagai hatiku , jiwaku dan tubuhku untuk dikuduskan di HadapanMu. Jauhkan hatiku dari keinginan memanfaatkan TUHAN dan mencuri kemulianMu. Tuhan Roh Kudus tolonglah aku terus melekat kepada Pokok Anggur Yang Benar , Tuhan Yesusku …. “

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu,
dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.
Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.
Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan
[ Ams.3:5-7 ]

———————————————————————————————————————————————————

Vol. 422 / 2016

HIDUP BERDOSA DAN TETAP DIURAPI TUHAN ? [ 1-2 ]

Dalam session tanya jawab saat mengajar sekolah Alkitab , saya mendapat pertanyaan menarik . Si penanya sudah bertanya kepada banyak orang , tetapi tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Sebelum saya menjawabnya , saya berkomentar bahwa bisa jadi saya juga tidak bisa menjawab pertanyaannya , karena saya juga memiliki banyak keterbatasan.

Pertanyaannya sederhana , dia melihat ada seorang hamba Tuhan yang tetap berkhotbah dan diurapi Tuhan sementara hamba Tuhan ini hidup dalam perzinahan. Mengapa sepertinya dosa perzinahannya tidak berpengaruh atas pelayanan dan urapannya ?

Sayapun mulai menjawabnya.

Alasan pertama , karena dosanya belum matang. Ukuran dosa yang matang berbeda-beda , tergantung waktu dan jenis dosanya. Seperti yang tertulis di dalam Yakobus 1 : 13-15 .
Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!”
Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.
Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.
Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa;
dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.

Jadi dosa yang terus bertambah akan semakin mempercepat buah dosa tersebut. Kerusakannya tidak langsung seperti kebocoran besar di lambung kapal. Dosa yang dilakukan seperti alat perusak yang melubangi lambung kapal kehidupan. Awalnya hanya membuat lobang kecil , tetapi ketika dosanya terus dilakukan , maka dosa berikutnya seperti membuat tambah besar lubang kerusakannya. Pada waktu lobangnya masih kecil , dosanya baru awal – maka air laut yang masuk ke lambung kapal hanya sedikit saja. Tetapi sejalan dengan dilakukannya dosanya berulang-ulang , maka bertambah besar pula lubang yang merusak lambung kapal. Air laut akan lebih banyak masuk ke kapan , tetapi belum membuat sampai kapalnya tenggelam. Mungkin kerusakannya mulai ditambal dengan berbagai alasan , menyalahkan orang lain , membuat kebenaran diri sendiri bahkan membuat keadaannya bisa dimengerti mengapa dia melakukan dosa tersebut.

Dibutuhkan proses dan waktu yang cukup lama sampai dosanya matang dan membuahkan kerusakan , membuahkan maut.
Contoh ketika manusia jatuh dalam dosa , Adam dan Hawa makan buah pengetahuan baik dan jahat , dan Tuhan sudah menjatuhkan hukuman bahwa yang memakannya akan mati , tetapi manusia tidak langsung mati. Hukuman sudah dijatuhkan , tinggal menunggu proses degradasi kehidupannya sampai kemudian mati.

Alasan kedua , mengapa hamba TUHAN yang berdosa , sepertinya masih diurapi ?
Pengurapan itu dari TUHAN dan TUHAN tidak mengambil apa yang sudah diberikannya. Contohnya Saul , raja pertama Israel. Pada waktu Saul melawan Kehendak Tuhan , TUHAN meninggalkan Saul . Tetapi pengurapannya tidak langsung hilang. Pengurapan TUHAN semakin berkurang sejalan dengan dosa yang diperbuat. Masalahnya manusia memiliki jiwa yang bisa mengolah sepertinya pengurapannya masih ada. Padahal urapan yang dari TUHAN sudah sangat berkurang , tetapi kalau jiwanya berhasil ‘mengolah’ seakan-akan masih diurapi – maka orang lain yang tidak memiliki ‘karunia membedakan roh’ akan tertipu.

Kata Samuel kepada Saul: “Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN
mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya.
Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih
seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu.”
[ 1 Sam.13:13-14 ]

Saul menjadi takut kepada Daud, karena TUHAN menyertai Daud,
sedang dari pada Saul Ia telah undur. Sebab itu Saul menjauhkan Daud dari dekatnya dan mengangkat dia
menjadi kepala pasukan seribu, sehingga ia berada di depan dalam segala gerakan tentara. Daud berhasil di segala perjalanannya, sebab TUHAN menyertai dia.
[ 1Sam18:12-14 ]

Pengurapan tidak lenyap begitu saja ketika orangnya berbuat dosa.
Inilah yang sebenarnya berbahaya.

Si penerima urapan tidak sadar bahwa urapannya terus berkurang sejalan dengan dosa yang diperbuat dan sejalan dengan menjauhnya dia dari TUHAN. Saya katakan berbahaya karena seorang hamba TUHAN adalah tetaplah seorang hamba yang mengerjakan apa yang diperintah TUANnya , yaitu TUHAN yang memanggilnya.
Tetapi kalau keinginan dan kepentingan pribadi sudah menguasainya , maka si hamba TUHAN ini tidak mentaati Kehendak TUHAN. Maka pada awalnya ‘kehendak manusia’-nya bercampur dengan Kehendak TUHAN , lambat laun dengan dosa yang diperbuatnya – maka ‘kehendak manusiawi’-nya akan lebih dominan. Kehendak manusianya lebih berperan aktif dibandingkan kerelaannya mentaati Kehendak TUHAN.

Bayangkan …. Urapan dari TUHAN sebenarnya untuk menguatkan Penyertaan TUHAN dalam pelayanannya , lambat laun digantikan dengan ‘pesona jiwa’ hamba TUHAN yang bersangkutan.
Kalau pendengarnya atau pengikutnya meng-idolakan hamba TUHAN itu , maka klop-lah kerusakan yang terjadi.

TUHAN seharusnya bisa menyampaikan KehendakNya melalui hidup hamba TUHAN ini , tetapi tidak didengar atau bahkan dimanipulasi hamba TUHAN ini untuk kepentingan pribadinya …

Tetapi ada hal yang lebih menarik daripada ke dua alasan di atas.
Alasan ke tiga adalah karena TUHAN masih ‘memiliki kepentingan’ untuk berbicara kepada umatNya.
Kehendak TUHAN tidak bisa dihalangi semata-mata oleh karena dosa hambaNya , TUHAN tetap punya cara untuk menyampaikan KehendakNya kepada umatNya … [ bersambung ]

Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,
dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.
Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. [ Ef. 5:15-17 ]

———————————————————————————————————————————————————

Vol.145/2010

“KALIAN ITU BERSAUDARA, KITA INI KELUARGA NAK”

Untuk terus menerus mengingatkan anak-anak tentang nilai hidup itu butuh kesabaran. Mesti berulang-ulang. Tidak boleh putus asa melihat proses yang sedang terjadi. Saya sedang bekerja di ruang kerja saya di rumah di lantai 2. Saya mendengar suara anak-anak yang bertengkar di lantai bawah. Makin lama makin keras saling teriak. Bayangkan 3 anak saling teriak satu sama lain. Ribut dan tidak ada yang mau mengalah. Ini untuk kesekian kalinya saya dengar mereka bertengkar. Tetapi selama saya lihat pertengkaran mereka dalam tingkat wajar – artinya beda pendapat dan saling menggoda – saya masih anggap biasa.
Saya panggil mereka untuk berkumpul di atas, satu per satu naik ke kamar tidur kami.
Mereka masih cemberut dan ngomong sendiri. Saya tahu mereka merasa sedang memasuki ‘sidang pengadilan’.
Mau tidak mau mereka mesti nurut kepada kami orangtuanya.
Saya tahu mereka tidak selalu bertengkar, tetapi kalau pertengkaran mereka sudah saling mengejek dan merendahkan – maka saya yang keberatan.

Kami harus meluruskan cara pandang mereka.
Saya tahu anak-anak saya tumbuh dalam keadaan keluarga yang berbeda dengan sewaktu saya dibesarkan. Kami berusaha menjadi orangtua yang baik untuk mereka, memenuhi kebutuhan mereka, menyayangi dan mendisiplin mereka, mendoakan mereka, mendampingi masa sulit mereka. Kami terus berjuang menanam benih kehidupan dalam hidup mereka. Kalau mereka saat kecil memiliki prinsip yang salah dan kami biarkan – maka prinsip yang salah itu bisa dibawa mereka saat mereka besar, bahkan saat mereka berkeluarga kelak.

Setelah mereka duduk di depan kami – kami mulai tanya apa yang sebenarnya terjadi.
Mereka mulai saling menuduh dan menuding. Kami dengarkan dulu satu per satu, kami minta yang lain mendengarkan. Kami tahu yang membuat ribut adalah yang paling kecil, dia tidak mau gantian menonton acara tv. Maunya acaranya dia yang ditonton semua.
Sewaktu dia disuruh menonton tv di kamar atas dia tidak mau, maka kakak-kakaknya yang senewen. Lalu mereka berebut remote dan bertengkar.
Sebenarnya kalau hanya masalah itu saya bisa maklum, tetapi ketika diselesaikan dengan teriak dan marah – maka saya harus campur tangan.
Istri saya mulai dengan nasehatnya dan cara pandangnya. Yang kecil diberitahu untuk gantian nonton tv, sedang yang besar diberitahu untuk bersikap baik dengan adiknya. Kalaupun tidak setuju – sampaikan saja dengan baik, jangan dengan marah.
Yang besar menyela membela diri dengan mengatakan dia sudah mencoba sabar tetapi yang kecil kebangetan katanya. Saya terangkan walaupun sikap dan posisi kita benar tetapi kalau cara yang kita pakai salah maka kita bisa ikut salah.
Menegur adik untuk berbagi itu baik, tetapi ketika itu dilakukan dengan nada tinggi dan menyalahkan – maka jadinya ikut salah.
Setelah istri saya membagi hatinya kepada anak-anak. Saya gantian melanjutkan.

Saya ingatkan mereka bahwa mereka itu saudara satu dengan yang lain.
“Kalian itu saudara sekandung, bukan musuh. Lihatlah dengan kacamata kasih. Kita ini keluarga nak… bukan seperti teman di luar yang bebas bermusuhan. Berbeda antara keluarga dengan teman di luar.
Selama kalian berlaku baik maka siapapun akan menerima kalian, tetapi ketika kalian berbuat salah dan dianggap gagal – maka teman-temanmu akan meninggalkan kamu.
Berbeda saat kamu balik ke keluargamu – maka kamu akan diterima dengan tangan terbuka. Walaupun kamu salah dan gagal – ada saudara dalam keluarga yang akan menemani dan mendukungmu. Bukan mendukung kesalahanmu tetapi akan ikut menanggung kesalahan dan bersama-sama memperbaiiki yang rusak dan salah.
Saudara itu berbeda dengan teman. Kalau teman biasanya hanya mau yang baik dan enak saja, tetapi kalau saudara dan keluarga akan menemani kamu dalam keadaan apapun juga“.

Lalu saya ceritakan pengalaman saya sewaktu kecil dengan ke 4 saudara saya. Bagaimana kami saling mendukung dan membantu menghadapi cemoohan tetangga karena orang tua kami bercerai. Bagaimana saya membela adik saya yang diejek teman sekolahnya karena keadaan kami yang kurang pada waktu itu. Bagaimana saya diajari ibu saya untuk tetap saling mengasihi dan rukun sebagai saudara. Kalau bukan saudara siapa lagi yang akan menolong di saat susah? Lalu istri saya juga menceritakan bagaimana dia dan kakaknya saling membantu.

Setelah kami lihat anak-anak mengerti, kami minta mereka untuk saling minta maaf dan saling memaafkan. Kami tutup dengan doa bersama.
Dari yang besar sampai yang kecil mereka berdoa. Dilanjutkan istri saya berdoa , dan saya doa penutup.
Saya minta Tuhan campur tangan dalam hidup keluarga kami. Kami tidak akan sanggup kecuali Tuhan yang tolong kami berikan kasih dan kesatuan. Selesai berdoa mereka saling memeluk dan mencium pipi saudaranya. Juga kami peluk mereka dan cium satu per satu.

Saya tahu perjalanan kami sebagai orang tua masih panjang. Kejadian manis pagi itu harus terus ditindak lanjuti dan diusahakan. Tuhan … tolonglah kami memberikan disiplin, kasih, didikan dan iman kepadaMu kepada anak-anak kami …..

Maka haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya.
Oleh sebab itu haruslah engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan takut akan Dia.
Sebab TUHAN, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik… di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apa pun…
Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu. (Ulangan 8:5-10)

———————————————————————————————————————————————————

Vol.101/2009

“BELAJAR MENJADI ORANG TUA”

Malam hari. Perjalanan pulang dari pelayanan di luar kota. Hujan. Setelah menempuh perjalanan 3 jam, saya sampai di rumah jam setengah 11 malam. Saya disambut istri saya. Anak-anak sudah tidur. Tidak biasanya jam segitu mereka sudah berangkat tidur. Setelah ganti baju dan bersih-bersih badan di kamar mandi, saya ikut duduk di ruang tengah.

Istri saya sedang menonton tv. Saya bercerita tentang kebaktian yang barusan saya layani, juga komentar 2 teman yang menemani saya melayani di sana. Tuhan menyertai pelayanan kami.
Selesai saya bercerita, istri saya mengungkapkan cerita menarik selama saya pergi melayani malam itu. Dia mengatakan bahwa dia belajar menjadi orangtua. Dia menyadari bahwa banyak hal yang perlu dipelajari dari anak-anak dan kami harus berbenah diri.

Malam itu anak-anak bertengkar. Sebenarnya bukan masalah besar. Kadangkala mereka bertengkar untuk sesuatu yang sepele. Tetapi kali itu berbeda. Mereka bicaranya kasar satu sama lain. Tidak pernah ada istilah kotor yang kami ajarkan kepada mereka. Tetapi malam itu mereka bisa begitu kasar. Tidak menghargai satu sama lain. Saling teriak tidak mau mengalah.
Lalu istri saya menengahi mereka. Disuruhnya mereka diam semua. Mereka diminta duduk bersama di ruang keluarga. TV dimatikan. Dengan tidak ada suara TV maka mereka semua akan memperhatikan.
Lalu istri saya mulai menyampaikan keprihatinannya bagaimana mereka bisa mulai berbicara kasar, tidak ada saling mengasihi dan menghargai. Mau jadi apa keluarga ini kalau tidak dibangun dari kecil.
Istri saya menceritakan bagaimana sewaktu saya , papa mereka , bertumbuh remaja. Keluarga saya bisa rukun satu dengan yang lain. Walaupun keadaan ekonomi keluarga saya berantakan, tetapi justru kami bisa kompak satu dengan yang lain. Sementara sekarang ini anak kami bertiga hidup berkecukupan, tetapi mulai kehilangan rasa kekeluargaan …

Istri saya berbicara panjang lebar kepada anak-anak tentang perlunya kasih dan saling menghargai satu dengan yang lain. Perlunya dibangun kasih antar anggota keluarga supaya bisa saling menolong di kemudian hari. Setelah beberapa hal disampaikan , pembicaraan selesai , lalu mereka diminta berdoa dengan bahasa roh selama 15 menit. Kalau mereka mengulangi lagi pertengkaran mereka besok harinya, maka hukuman buat mereka adalah harus bahasa roh bersama selama ½ jam. Kalau masih belum ada perubahan, maka waktunya akan ditingkatkan.
Setelah berbahasa roh , mereka mendoakan satu dengan yang lain, mesti diakhiri dengan bergantian memeluk dan mencium pipi saudaranya. Suasananya menjadi tenang dan sejuk setelah itu. Rasanya keadaan kembali damai. Mereka bisa melihat saudara kandungnya dengan kasih. Baru setelah selesai semuanya, mereka disuruh ke kamar masing-masing, menyiapkan pelajaran dan tidur.

Saya menyimak cerita istri saya.
Kalau dia mengatakan bahwa dia belajar menjadi orangtua, maka saya juga merasa seperti itu. Saya diberkati dengan ceritanya. Saya bersyukur memiliki istri yang mau belajar. Saya ingin bergabung lagi kalau mereka kumpul untuk saling berbagi.
Saya semakin menyadari bahwa kami ini harus melestarikan budaya saling menyayangi. Kakak menghormati dan menyayangi adiknya, demikian juga sebaliknya. Terbukti setelah berpelukan dan saling menciun pipi keadaan menjadi cair. Tidak seperti ‘peperangan’ waktu bertengkar. Saya belajar menjadi orangtua.

Saya menyadari bahwa dari waktu ke waktu, saya mesti terus belajar.
menjadi bawahan yang baik, atasan yang baik, suami yang baik, bapak yang baik, teman yang baik dan apapun yang baik. Saya bersyukur ada istri yang juga belajar menjadi orangtua. Saya sadar tidak mudah menjadi orangtua. Saya belum pernah menjadi orangtua sebelumnya.

Untuk melakukan yang buruk seseorang tidak perlu belajar, keinginan daging ini sudah otomatis keluar yang buruk, tetapi untuk menjadi baik ternyata perlu kerja keras. Dengan anak-anak yang semakin bertumbuh besar, ternyata ada perlakuan yang perlu berkembang pula. Saya ternyata tidak bisa membiarkan anak saya belajar sendiri. Kami yang harus memberitahu mereka bagaimana bersikap dengan keluarga, dengan orangtua, dengan teman-teman mereka, dengan orang lain.
Kami sepertinya berlomba dengan pengaruh buruk di luar keluarga kami, siapa yang bisa mempengaruhi anak-anak kami. Saya jadi bersemangat untuk menjagai anak-anak saya.

Malam itu saya bersyukur. Saya berdoa buat keluarga saya, buat istri dan anak-anak saya. Saya juga berdoa buat saya sendiri. Saya meminta Tuhan mengajari saya bagaimana menjadi orangtua seperti yang Tuhan kehendaki, supaya anak-anak kami juga belajar dari Tuhan sendiri… Saya memang mesti banyak belajar menjadi orang tua….

Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang ,dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya. (1 Tesalonika 2 : 11-12)

———————————————————————————————————————————————————

Vol. 140

“SUKSES ADALAH LEBIH BAIK DARI ORANG TUAMU”

Studio Pro TV. Saya harus bersiap diri untuk shooting live. Itu adalah tayangan lanjutan setelah sekian waktu berhenti. Dengan format yang baru maka saya mesti menyiapkan diri lebih baik. Kalau sebelumnya saya didampingi presenter, maka berikutnya saya diminta untuk tampil sendiri. Jadi saya berlaku sebagai presenter dan narasumber sekaligus.
Kalau ada presenternya maka saya akan punya jeda sekian detik untuk berpikir kalau ada pertanyaan yang sulit, tetapi dengan tampil single fighter begini saya mesti siap setiap saat.
Dari pihak management tv meminta topik anak muda dulu, baru topik keluarga. Kali itu topik yang saya angkat adalah ‘menikah dulu atau sukses dulu’, itu topik untuk anak muda.

Acara Keluarga Bahagia di tv lokal ini didapat tidak dengan mudah. Pihak management lokal mesti yakinkan pusat bahwa jam tayang utama yang diambil ini tidak akan merugi. Saya tahu bahwa ini adalah pertaruhan nama baik mereka di pusat karena itu saya imbangi niat baik mereka itu dengan persiapan sebaik-baiknya. Saya tahu Tuhan yang atur semua ini jadi sayapun berseru ke Tuhan untuk pertolonganNya. Saya ingin membantu lebih banyak orang bertemu Tuhan jadi saya berharap dengan acara di tv lokal ini akan membawa banyak orang mengenal Tuhan.

Saya sapa kru yang bertugas sambil memperhatikan dekorasi yang dipakai. Saya mesti menyesuaikan diri sebaik-baiknya. Saya harus bisa bekerja sama dengan mereka. Saya tahu saya bisa menunjang acara mereka atau saya juga bisa mengacau acara mereka.

Topik ‘menikah dulu atau sukses dulu’ pasti ternyata membuat orang berpikir. Saya lihat respon kru yang bertugas, masing-masing memiliki pandangannya sendiri.
Anak muda pasti dibuat bingung. Kalau menunggu sukses baru menikah, lalu umur berapa akan sukses? Apalagi ukuran sukses setiap orang itu berbeda, relatif. Tergantung dititik mana dia sebelumnya. Kalau sebelumnya untuk makan 3 kali sehari saja susah, maka ketika suatu kali dia bisa makan 3 kali sehari dengan nyaman maka dia sebut dirinya sukses.

Kalau belum sukses lalu memaksa diri untuk menikah maka akan menghadapi kesulitan ekonomi. Rasanya kalau ekonomi sudah baik maka kalau menikah maka akan baik padahal inipun bukan jaminan.
Sukses dalam materi tidak menjamin sukses dalam pernikahan. Pernikahan itu bukan semata-mata perasaan cinta dan materi yang cukup. Ada iman, ada cinta yang diusahakan, ada komitmen, ada pasang surut dan padang gurun yang mesti dihadapi, ada tekanan dari luar, ada impian dan ada pilihan yang menentukan masa depan.

Saya tahu bahwa waktu 1 jam tidak akan cukup membahasnya, kalau tidak cukup saya rencanakan sambung dengan episode berikutnya.
Setelah menunggu sekian menit akhirnya saat itu datang. Ketika produsernya berhitung mundur dari 10 ke 1 – saya sepertinya menghadapi ujian hidup. Saya tarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri. Segment pertama saya lewati dengan deg-degan. Maklum sudah sekian waktu tidak shooting. Live lagi. Itu tidak mudah. Saya tidak bisa katakan “cut” sesuka saya karena langsung dilihat ribuan pemirsa di rumah.

Disegment ke 3, saat interaktif dengan pemirsa, saya mendapat pertanyaan yang tidak saya duga. Dia menanyakan, “Apakah yang dianggap sukses itu?”
Secara langsung keluar jawaban dari mulut saya bahwa sukses adalah keadaan ketika saudara lebih baik dari orangtua saudara. Rasanya saya tidak sempat berpikir dulu. Baru setelah kalimat itu keluar saya memikirkannya. Saya simpan hal itu dihati saya. Lalu saya teruskan tugas saya kesegmen-segmen berikutnya. Malam itu berhasil saya lewati. Banyak telpon, banyak sms artinya acaranya ditonton banyak permirsa di rumah. Dari pihak pimpinan tv lokal yang menungggui acara saya sampaikan kepuasan mereka. Saya lega. Saya tinggal siapkan diri untuk episode minggu berikutnya.

Ada pertanyaan yang muncul dihati saya. Apakah jawaban saya tentang kriteria sukses yang saya sebutkan tadi benar?
Memang buat saya sukses adalah ketika saya lebih baik dari orang tua saya.
Orangtua saya menjadi acuan apakah saya ini hidupnya naik atau turun. Acuan sukses saya bukan keadaan hidup saya dibandingkan hidup orang lain atau sukses orang lain.
Kalau saya memakai pencapaian orang lain sebagai ukuran maka saya tidak akan pernah mencapai sukses.
Sukses buat saya adalah kalau kondisi saya sekarang ini lebih baik dari orang tua saya. Jadi kalau seseorang hidupnya sudah lebih baik dari orangtuanya maka saya akan katakan dia sudah sukses.
Karena sukses itu suatu proses maka yang bersangkutanlah yang harus mempertahankannya bahkan meningkatkannya. Kalau tidak ada upaya menjadi lebih baik maka sukses yang dicapai saat itu bisa pudar.

Lalu keadaan apa yang lebih baik dari orangtuanya?
Pasti bukan hanya soal materi. Lebih baik keadaan rohaninya, keadaan materinya, semangatnya, impiannya, pengharapannya, kesatuan dan kerukunannya, didikan dan ajarannya kepada anak-anaknya, hubungan yang hangat diantara anggota keluarga dan warisan rohani dan materi kepada anak-anaknya.

Apakah saya berhasil atau gagal? Saya akan ketahui setelah 10 sampai 15 tahun dari sekarang. Itulah saat anak saya sudah lulus kuliah, punya usaha pekerjaan dan punya keluarga.
Kalau sekarang saya bisa membekali mereka untuk lebih baik dari saya maka saya menanam benih sukses itu dalam hidup mereka.

KARENA IMAN maka Ishak, SAMBIL MEMANDANG JAUH KE DEPAN, MEMBERIKAN BERKATNYA kepada Yakub dan Esau. ( Ibr.11:20 )

 

Dikutip dari Belajar Takut Akan Tuhan

facebook : Pdt. Yosea Christiono